Qiyamullail, Doa & Infaq (Sedekah)

Qiyamullail , Doa & Infaq

Allah Swt adalah Tuhan alam semesta. Dialah Yang mengatur segala urusan makhluk di bumi maupun di langit. Dialah Tuhan Yang Mampu menghidupkan dan mematikan. Di tangan-Nya terletak segala kebaikan. Beruntunglah manusia yang sungguh menjadi hamba-Nya. Hamba yang dicintai dan diridhai-Nya. Sehingga setiap tindak-tanduk, laku dan pekerjaan yang ia kerjakan akan selalu mendapat pertolongan-Nya.

Allah Swt berfirman .

Yang Artinya : “Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah nafilah (sunnah) hingga Aku jatuh cinta kepadanya. Bila Aku sudah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar. Aku akan menjadi penglihatan dimana ia menglihat. Aku akan jadi tangan dengannya ia menggenggam. Aku akan menjadi kaki dengannya ia berjalan.” HR. Bukhari.

Demikianlah manusia yang menjadi hamba Allah sekaligus mendapatkan kecintaan-Nya. Hidupnya akan penuh dengan berkah dan bahagia dunia serta akhirat. Dalam banyak kesempatan, Allah Ta’ala menggambarkan kebiasaan para hamba-Nya yang shalihin. Seperti tergambar pada ayat berikut:

Yang artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menginfakkan rezeki yang Kami berikan.” QS. 32:16

Mengambil kesimpulan dari ayat di atas maka ada 3 cara kaum shalihin untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Ketiganya adalah:

Qiyamullail, Berdoa dan Berinfak! Ketiga hal ini, bila dijalankan dengan kesungguhan dan istiqamah maka akan mendatangkan kecintaan Allah Swt dan pertolongan-Nya.

Qiyamullail, merupakan sebuah ibadah shalat malam yang kedudukannya adalah satu tingkat dibawah shalat fardhu. Dia begitu utama dan amat dianjurkan. Sebab, pada saat itu Allah Swt turun ke langit dunia hanya untuk menjumpai para hamba-Nya yang shalih.

Rasulullah Saw bersabda,

Jika telah berlalu pertengahan atau dua pertiga malam, Allah Swt turun ke langit dunia dan berfirman, ‘Adakah hamba-Ku yang meminta, pasti diberikan permintaannya. Adakah hamba-Ku yang berdo’a, pasti akan terkabulkan. Adakah hamba-Ku yang memohon ampunan, pasti akan diampunkan.’ Peristiwa ini terjadi hingga waktu Fajar datang.” HR. Muslim .

Do’a, adalah sebuah hubungan komunikasi antara seorang hamba dengan Sang Pencipta. Bagai sebuah mantra sulap, maka doa pun akan terkabulkan! Sebagaimana janji Allah Swt dalam ayat-ayat berikut:

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” QS.2:186 “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” QS. 40:60

Infak, adalah manifestasi rasa syukur seorang hamba atas anugerah Tuhan yang pernah ia terima. Infak ini pun akan membuat pertolongan Allah Swt segera datang kepadanya. Rasulullah Saw bersabda,

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya…, Barangsiapa menolong urusan saudaranya (berinfak/bersedekah), maka Allah akan menolong segala urusannya. Barangsiapa yang menyelesaikan sebuah kekalutan seorang muslim, maka dengannya Allah akan melenyapkan kekalutan dirinya pada hari kiamat…” Hadits Muttafaq Alaihi.

Ketiga cara ini merupakan sebuah metod yang sistematik untuk meraih pertolongan Allah Swt. Ia merupakan sebuah entiti utuh dan berwujud satu-kesatuan. Bila rangkaian 3 ibadah ini dilakukan secara bersamaan, maka Insya Allah pertolongan Tuhan pun akan terwujud. Terdapat dalam kitab hadits Riyadhus Shalihin sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Siang itu seorang petani di kebun kurma meratapi kebunnya. Banyak sudah pohon yang tak menghasilkan disebabkan tanah kering tak punya air berkecukupan. Tak lama kemudian ia mengambil sikap. Ia angkat kedua tangannya dan menengadahkan kepalanya ke arah langit. Ia pasrahkan akan nasibnya dan mengadukan permasalahannya kepada Tuhan Yang Teramat Kuasa. Lama ia lakukan itu sambil berdiri. Ia yakin bahwa Allah Ta’ala mendengarkan pintanya. Benar saja, Allah Swt tidak akan menyia-nyiakan harapan serta permintaan hamba-Nya. Sejenak berselang, beberapa awan datang beriringan. Bagai ijabah atas do’anya, awan itu bergkumpul semakin tebal hingga berwarna kehitaman. Sang petani merasa girang. Ia tahu sebentar lagi akan turun hujan. Namun sayang, seketika ia mendengar suara dari langit yang mengatakan, “Wahai awan, bergeraklah ke kebun si Fulan!” Sejurus kemudian, bergeraklah awan meninggalkan petani yang tengah berdiri di kebunnya. Kelihatan kegusaran  ia mendapati hal ini. Seolah tak menerima ketentuan, ia pun berlari mengikuti kemana awan itu pergi.

Benar saja, akhirnya awan itu berhenti. Awan kemudian menurunkan segala air yang dikandungnya di atas sebuah kebun yang amat rimbun. Lebat pohonnya serta buahnya. Di kebun tersebut, air tidak pernah kekurangan. Si petani berdiri terdiam dengan rasa sesal dan tanda tanya. Sejenak berselang, kemudian ia dapati ada sesosok pria yang ia duga adalah pemilik kebun beruntung. Di bawah derasnya hujan, si petani menghampiri pemilik kebun lalu mengucapkan salam kepadanya. Salam pun terbalas, dan pembicaraan pun dimulai. Petani berbicara, “Saudaraku, apakah anda bernama si Fulan (ia menyebut sebuah nama yang ia dengar dari suara yang bersumber dari langit)?!” Seolah terkejut  namanya telah diketahui oleh orang yang belum ia kenal, si pemilik kebun bertanya balik, “Dari mana anda tahu nama saya?” Maka petani pun menceritakan kisahnya. Usai menjelaskan, sang petani bertanya kembali kepada pemilik kebun, “Saudara, apa yang kau lakukan sehingga namamu disebut di langit dan rezekimu bisa datang berlimpah tanpa susah?” Pemilik kebun menghela nafas. Sejenak ia berpikir, kemudian ia pun berujar, “Saudara…, tidak seorang pun yang mengetahui hal ini dan aku pun enggan memberitahukannya. Sebab engkau telah datang kemari dan mengetahui hal ini, aku pun akan menceritakan sebuah rahasia yang senantiasa aku lakukan.” “Apa itu, saudaraku?!” sang petani menunggu  penuh rasa teruja. “Ketahuilah…, setiap kali tanah ini memberikan hasil, sepertiganya aku sedekahkan. Sepertiganya lagi aku makan bersama keluarga. Sementara sepertiga sisanya, aku kembalikan ke kebun ini sebagai tambahan modal. Itulah yang aku kerjakan, dan rupanya Allah Ta’ala memberi keberkahan.” pemilik kebun menjelaskan rahasianya.

Subhanllah! Rupanya inilah yang tidak dimiliki oleh si petani. Benar, ia telah berdoa kepada Allah Swt agar hujan membasahi kebunnya, dan Allah Swt pun mengabulkan perkenannya dengan mendatangkan awan. Namun keampuhan ibadah sunnah seperti qiyamul lail dan do’a belum akan terasa dampaknya, sebelum manusia melakukan infak atau sedekah di jalan Allah Swt. Maka awan pun memilih untuk bergerak dan menurunkan airnya bagi orang yang bisa mengerjakan ketiga cara ini sekaligus; Qiyamul Lail, Do’a dan Infak! Semoga saya dan Anda dapat melakukannya bersamaan. Amien.

Posted on July 10, 2009, in Doa & Ibadah, E - Catatan Penulis and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: